Indonesia yang merupakan negara kepulauan terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama. Hal itulah yang menyebebakan semakin banyaknya adat-istiadat yang masih dijaga hingga sekarang. Keberagaman itu juga terjadi pada prosesi pernikahan yang terjadi di berbagai macam daerah, termasuk Pulau Jawa.

Prosesi pernikahan menggunakan adat Jawa dibagi menjadi 5 tahap yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Tahap-tahap tersebut meliputi: prosesi pembicaraan, prosesi kesaksian, prosesi siaga, prosesi upacara dan inti resepsi. Kelima tahapan tersebut akan dijelaskan satu per satu dalam penjelasan di bawah ini.

  1. Prosesi Pembicaraan

Prosesi Pembicaraan

Ada 4 tahapan yang ada pada prosesi pembicaraan, yaitu:

  • Congkog

Congkog merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tahapan ketika ada salah satu perwakilan dari pihak pria yang bertanya mengenai kondisi wanita yang akan dilamar. Kondisi yang dimaksud adalah status wanita tersebut, apakah sudah ada pihak atau orang yang mengikat ataukah masih sendiri.

  • Salar

Salar merupakan acara yang dibuat oleh wali. Acara tersebut berisi jawaban dari pihak wanita yang dilamar atas pertanyaan yang telah diajukan saat acara Congkog. Acara ini bebas diselenggarakan entah oleh wali pertama atau wali yang lain.

  • Nontoni

Nontoni terjadi ketika sudah ada izin bahwa wanita yang akan dipinang bersedia. Pada prosesi nontoni, pihak calon pengantin pria akan bertamu ke rumah calon pengantin wanita. Pada prosesi ini, masing-masing keluarga akan mengetahui rupa, kepribadian dan segala hal yang menyangkut pribadi calon pasangan yang akan menikah.

  • Nglamar

Prosesi nglamar diadakan setelah ada kesepakatan yang sudah terjadi pada prosesi nontoni. Pada prosesi ini, akan dibicarakan mengenai waktu, hari dan tanggal pernikahan yang akan dilaksanakan. Prosesi ini juga menjadi tanda bahwa hubungan pernikahan yang akan dilaksanakan benar-benar serius dan bukan permainan.

  1. Prosesi Kesaksian

Prosesi Kesaksian

Seperti nama yang telah disebutkan, kesaksian merupakan prosesi dimana ada saksi-saksi yang melihat bahwa pernikahan akan benar-benar diselenggarakan. Kesaksian biasanya melibatkan lebih banyak tetangga dan keluarga pihak-pihak yang terkait. Pada prosesi kesaksian juga akan diberikan hantaran yang telah disiapkan oleh pihak calon pengantin pria yang akan diserahkan kepada pihak calon pengantin wanita.

Isi hantaran atau seserahannya, yaitu: peningsetan (adanya cinta dan kekuatannya yang ditunjukkan dengan acara saling tukar cincin), asok tukon (pemberian sejumlah uang kepada mempelai wanita dari mempelai pria), pseksen (meminta restu dari orang tua atau wali), gethok dina (penentuan tanggal pernikahan, biasanya melibatkan orang yang ahli di bidangnya).

  1. Prosesi Siaga

 Prosesi Siaga

Prosesi ini merupakan prosesi dimana calon pengantin meminta pertolongan kepada kerabat agar sudi membantu di hari menjelang pernikahan hingga pernikahan tersebut usai. Pada tahap ini calon pengantin juga akan mendaftarkan pernikahan mereka di KUA.

  1. Prosesi Upacara

Prosesi Upacara

Upacara pernikahan yang akan dilaksanakan ditandai dengan dibangunnya tarub dan tratag. Tarub merupakan tanda pernikahan yang terbuat dari daun pisang dan janur kelapa. Tarub dipasang di pintu selamat datang. sedangkan tratag adalah sejenis panggung yang nantinya akan digunakan pasangan pengantin untuk duduk.

Selain itu, di prosesi upacara akan diadakan siraman. Siraman menjadi simbol agar calon pengantin membersihkan diri sebelum acara sakral yang akan dilaksanakan. Setelah itu, ada pula acara midodareni. Midodareni merupakan istilah yang digunakan ketika calon mempelai wanita dirias secantik mungkin dan diberi makan oleh orang tuanya untuk yang terakhir kali, karena setelah menikah wanita tersebut sudah menjadi tanggung jawab suami.

  1. Inti Resepsi

Inti Resepsi

Inti resepsi berisi pengucapan ijab qabul, upacara panggih, upacara babak kawah, tumplek punjen, sungkeman dan kirab.

Itulah prosesi pernikahan yang dilaksanakan menggunakan adat Jawa. Beberapa bagian Pulau Jawa yang lain mungkin menggunakan cara yang sama, tapi dengan istilah yang berbeda.